Penjelasan Dokter Soal Konsumsi Pil KB Bagi Ibu Menyusui & Perempuan Punya Riwayat Sakit Berat

Pemilihan dan penggunaan metode kontrasepsi bagi ibu maupun calon ibu tentunya harus mempertimbangkan pula riwayat serta kondisi kesehatan. Ada catatan khusus yang perlu diperhatikan perempuan yang memiliki riwayat penyakit berat atau sedang menyusui dalam memilih metode kontrasepsi untuk menunda kehamilan. Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan dr Bambang Triono Cahyadi SpOG MKes mengatakan di masa pandemi ini metode kontrasepsi melalui konsumsi pil KB dianggap sebagai cara paling aman dan efektif.

Karena selain tidak perlu mendatangi fasilitas kesehatan (faskes) seperti rumah sakit, efek sampingnya pun tergolong ringan. Namun, ia menjelaskan, pil KB yang beredar saat ini ada 2 macam. Pertama pil kontrasepsi kombinasi yang mengandung hormon progesteron dan estrogen.

Ibu yang sedang menyusui, kata dia, tidak disarankan untuk mengkonsumsi pil KB jenis ini untuk program penundaan kehamilan selanjutnya. Hal itu karena efek dari pil ini dapat mengurangi produksi Air Susu Ibu (ASI). "Nah yang pil kombinasi ini memang tidak disarankan bagi ibu yang sedang menyusui, karena dapat mengganggu produksi ASI," jelas Bambang.

Sedangkan jenis pil KB yang kedua hanya mengandung progesteron dan dinyatakan aman bagi ibu menyusui. Sehingga ibu yang baru saja melahirkan atau masih dalam program ASI eksklusif, tidak perlu khawatir untuk mengkonsumsi pil KB, tentunya pil yang hanya mengandung hormon progesteron. "Namun jenis yang kedua itu hanya berisi progesteron saja, itu aman digunakan oleh ibu yang memberikan ASI. Jadi tidak masalah untuk memberikan kontrasepsi menggunakan pil ya. Tapi digarisbawahi ya, (pil) yang hanya menggunakan progesteron saja," kata Bambang.

Ia kemudian menjelaskan bahwa pil KB merupakan alternatif yang efektif sebagai pengganti metode kontrasepsi lainnya seperti suntik, Intrauterine Device (IUD) dan implan. Karena metode suntik hingga implan membutuhkan bantuan tenaga medis di rumah sakit maupun klinik. Sedangkan saat ini, banyak rumah sakit yang turut membantu menangani pasien virus corona (Covid 19) lantaran makin terbatasnya fasilitas penanganan yang disediakan pemerintah bagi pasien Covid 19.

Selanjutnya, terkait perempuan maupun kaum ibu yang memiliki riwayat penyakit berat, seperti diabetes melitus hingga kanker payudara, ia tidak menyarankan mereka menggunakan kontrasepsi hormonal. "Kalau misalnya ada beberapa penyakit berat, misalkan ada yang diabetes melitus, riwayat tumor terutama tumor pada payudara misalnya, itu memang tidak disarankan menggunakan kontrasepsi hormonal," kata Bambang. Kendati demikian, jika kondisi penyakit mereka masih terkendali, konsumsi pil KB dinilai cukup aman.

Terlebih jika pil KB yang dikonsumsi ini hanya mengandung hormon progesteron saja. "Namun tidak semuanya berbahaya, misalnya kalau hipertensinya terkontrol, kemudian kalaupun ada kadar gula tinggi tapi kadar gulanya terkontrol, itu saya kira tidak masalah untuk menggunakan pil KB, apalagi kontrasepsi yang hanya progesteron itu saja, jadi silakan," kata Bambang. Pil KB, kata dia, memiliki efektivitas yang tidak kalah dengan metode kontrasepsi lainnya.

Selain itu, bagi orang yang mengikuti program Keluarga Berencana (Akseptor), mengkonsumsi pil KB turut mengurangi risiko mereka terpapar Covid 19. Karena akseptor tidak harus mengunjungi faskes di masa pandemi ini. "Kalau untuk pil KB kontrasepsi itu sangat efektif menurut saya, apalagi di masa pandemi Covid ini kan yang jelas tanpa harus kontak ke rumah sakit, tanpa harus kontak ke tenaga medis langsung," ujar Bambang.

Menurutnya, manfaat pil KB akan terasa efektif dalam mencegah kehamilan yang tidak direncanakan, jika dikonsumsi secara tepat. "Akseptor itu bisa langsung mendapatkan pil kontrasepsi itu ya, kalau selama ini sih selama penggunaannya tepat, pil KB itu merupakaan suatu metode yang efektif ya," kata Bambang. Dokter yang membuka praktik di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nyi Ageng Serang, Kulon Progo ini bahkan menyebut penggunaan pil KB selama bertahun tahun tidak akan menimbulkan masalah kesehatan karena minim efek samping.

Tentunya jika akseptor mengkonsumsi pil ini setiap hari sesuai dengan anjuran saat mengikuti program KB. "Bahkan digunakan berapa tahun pun tidak masalah, asalkan diminum secara teratur setiap hari sesuai anjuran, itu cukup efektif dan efek sampingnya pun termasuk kecil, artinya memungkinkan untuk mengurangi risiko akseptor untuk ke rumah sakit karena adanya keluhan akibat penggunaan pil KB tersebut," kata Bambang. Karena itu, ia menilai pil KB sebagai alternatif kontrasepsi yang efektif dalam mencegah kehamilan di masa pandemi ini.

"Jadi, kesimpulannya sih menurut saya sangat, sangat efektif penggunaannya," ujar Bambang. Sementara itu, Brand Manager Andalan Kontrasepsi, Apt. Rony Syamson, S.farm mengatakan salah satu penentu sukses atau tidaknya program KB bagi pasangan subur adalah melalui pemilihan metode kontrasepsi yang tepat. "Berbicara tentang kontrasepsi, memilih metode kontrasepsi yang tepat menjadi salah satu penentu kesuksesan program KB yang dijalani," kata Rony.

Penggunaan pil KB maupun kondom dianggap sebagai alternatif terbaik dalam upaya mencegah kehamilan yang tidak direncanakan di masa pandemi. "Di masa pandemi ini, di mana akses terhadap pelayanan KB di klinik terbatas, penggunaan kondom atau pil KB menjadi salah satu alternatif pilihan bagi masyarakat yang ingin ber KB namun tidak memungkinkan pergi ke tempat pelayanan KB," jelas Rony. Bahkan tingkat efektivitas yang ditunjukkan pil KB pun sangat tinggi yakni mencapai 99 persen.

Menariknya, jika akseptor mengkonsumsi pil ini secara teratur dan sesuai dengan apa yang telah dianjurkan, mereka akan memperoleh manfaat lainnya. Mulai dari membantu menjaga kesehatan kulit agar selalu terjaga hingga menjaga keseimbangan hormon. "Selain mencegah kehamilan secara efektif hingga 99 persen apabila digunakan secara benar dan teratur, berkontrasepsi dengan menggunakan Pil KB juga memiliki berbagai manfaat antara lain membantu menjaga kesehatan kulit, membantu mencegah kista indung telur, hingga membantu untuk menjaga keseimbangan hormon," tegas Rony.

Sedangkan untuk metode kontrasepsi lainnya termasuk suntik KB, dianggap cukup berisiko membuat akseptor tertular Covid 19, karena penggunaannya memerlukan bantuan tenaga medis, tidak seperti pil KB yang hanya perlu mengkonsumsi sendiri berdasar anjuran saja. Dr Bambang menjelaskan, bagi akseptor yang ingin melakukan metode lainnya seperti suntik KB, tentunya mereka harus mendatangi faskes seperti rumah sakit. Namun saat ini banyak rumah sakit yang turut membantu menangani pasien Covid 19 karena semakin terbatasnya tempat perawatan pasien virus tersebut, hal inilah yang membuat kaum perempuan khawatir.

"Kalau suntik (KB) itu kan kekurangannya adalah harus dilakukan oleh tenaga medis ya, dalam hal ini bisa bidan, bisa dokter. Jadi mau nggak mau pasien harus datang ke fasilitas kesehatan atau rumah sakit, jadi seperti itu kalau suntik," tutur Bambang. Bambang pun kembali menekankan memilih metode kontrasepsi pil KB dianggap sebagai alternatif terbaik bagi akseptor di masa pandemi ini. Cukup diam saja di rumah dan mengkonsumsi pil KB secara rutin setiap harinya sesuai dengan apa yang telah dianjurkan.

"Ya sekarang tidak menutup kemungkinan kan semua rumah sakit mau nggak mau harus siap menerima pasien Covid ya. Jadi sekarang ya bisa dikatakan tidak bisa memilah milah rumah sakit mana yang tidak merawat Covid sih memang," kata Bambang. Namun bagi perempuan yang telah hamil di masa pandemi, menurutnya tidak perlu khawatir. Karena mereka tetap bisa melakukan pemeriksaan ke rumah sakit, tentunya dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Khusus untuk perempuan yang mengalami kehamilan saat pandemi, ia meminta pihak keluarga maupun suami untuk terus mendukung melalui penerapan protokol kesehatan dan menjaga kebersihan. "Namun bagi ibu yang sudah hamil di masa pandemi, jangan khawatir, jangan malah takut periksa ke rumah sakit, jangan takut periksa ke dokter ya. Jadi tetap terapkan protokol kesehatan yang baik dan benar, tentu saja dengan dukungan dari keluarga dan orang orang di sekitarnya ya, itu saya yakin sih akan aman," tegas Bambang. Perlu diketahui, pandemi Covid 19 yang berlangsung di Indonesia sejak Maret 2020 telah mendorong penurunan angka pada perempuan yang menggunakan alat kontrasepsi.

Pada periode tersebut, data yang dimiliki Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mencatat ada lebih dari 420 ribu kehamilan yang tidak direncanakan akibat penurunan penggunaan tersebut. Karena itu, pemerintah melalui BKKBN mengimbau agar masyarakat disiplin dalam mengikuti program KB serta menggunakan kontrasepsi demi memperoleh kehamilan yang direncanakan. Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KBKR) BKKBN Eni Gustina mengatakan bahwa selama masa pandemi ini, program KB terancam gagal karena terbatasnya akses masyarakat ke faskes.

Menurut Eni, berbagai pertimbangan membuat pasangan usia subur memutuskan untuk tidak mendatangi faskes untuk memperoleh pelayanan KB. Satu diantaranya karena takut tertular Covid 19 lantaran saat ini banyak rumah sakit yang turut menangani pasien yang terinfeksi virus tersebut. "Pasangan usia subur menunda mendatangi faskes untuk mendapatkan pelayanan KB karena kekhawatiran akan tertular, hingga fasilitas kesehatan yang menyediakan pelayanan kontrasepsi tutup karena provider pelayanan KB belum sepenuhnya memiliki sarana yang diperlukan untuk mencegah penularan Covid 19," kata Eni, dalam konferensi pers virtual 'Hari Kontrasepsi Sedunia #2020 #SadarBerkontrasepsi Di Tengah Pandemi yang digelar DKT Indonesia, Kamis (24/9/2020) lalu.

Saat ini ada banyak jenis pil KB yang beredar di pasaran. Sebagian besar diantaranya memiliki proses kerja melalui pelepasan hormon yang membuat ovarium melepaskan telur. Selain itu juga menebalkan dinding rahim dan membantu menghalangi sperma agar tidak sampai ke sel telur.

Sebagai merek terdepan alat kontrasepsi yang telah digunakan oleh jutaan perempuan di Indonesia selama lebih dari 20 tahun, Andalan Kontrasepsi tentunya memiliki beberapa jenis Pil KB yang bisa menjadi pilihan bagi para perempuan Indonesia yang sedang mengikuti program KB. Produk pertama adalah Pil KB Andalan FE yang mengandung hormon estrogen dan progesteron. Pil ini cocok bagi perempuan yang memiliki riwayat penyakit anemia, karena terdapat kandungan zat besi atau FE dalam pil placebonya.

Selanjutnya ada pula Pil KB Andalan Laktasi yang mengandung hormon tunggal progesteron. Pil ini khusus diperuntukkan bagi ibu menyusui, karena tidak hanya bisa mencegah kehamilan, namun juga tidak akan mengganggu produktivitas Air Susu Ibu (ASI). Kemudian Pil KB Elzsa yang mengandung hormon cyproterone acetate dan ethinilestradiol.

Pil ini cocok digunakan untuk perempuan yang sangat memperhatikan penampilan fisik. Karena memiliki manfaat untuk menjaga kesehatan kulit, mengurangi jerawat dan flek, pil ini juga tidak memivu peningkatan berat badan, serta menjaga agar siklus menstruasi berlangsung secara teratur. Lalu Andalan Postpil yang memiliki fungsi sebagai back up plan dalam perencanaan keluarga.

Pil ini bisa dikonsumsi jika akseptor lupa memakai kontrasepsi, lupa suntik KB atau lupa meminum Pil KB. Postpil dapat memberikan perlindungan dan mencegah kehamilan setelah berhubungan tanpa alat kontrasepsi, jika dikonsumsi paling lambat 5 hari atau 120 jam setelah berhubungan intim. Berikutnya, ada Pil KB Andalan yang paling populer dan diminati jutaan perempuan di Indonesia.

Pil KB satu ini mengandung hormon kombinasi ethinylestradiol (hormon estrogen) dan levonorgestrel (hormon progestin) yang sangat bermanfaat bagi kaum perempuan. Perlu diketahui, pil KB menjadi salah satu metode perencanaan keluarga yang dipilih oleh banyak perempuan setelah KB Suntik. Rony pun kembali menyampaikan sederet keunggulan dan manfaat pil KB Andalan.

Pil KB ini dianggap efektif menunda kehamilan jika diminum secara teratur setiap harinya, tentunya pada jam yang sama. Tingkat kegagalannya pun sangat rendah yakni kurang dari 1 persen. Bagi perempuan yang sedang mengikuti program KB namun kerap menghadapi rasa sakit akibat menstruasi, mengkonsumsi Pil KB ini juga dapat mengurangi rasa sakit itu.

Beberapa dokter bahkan meresepkan Pil KB untuk mengurangi rasa sakit yang disebabkan oleh endometriosis. Pil KB ini juga dianggap mampu mengurangi jerawat, tidak menimbulkan flek pada wajah, serta mengurangi risiko kanker ovarium, karena dapat menyeimbangkan hormon. Penggunaan Pil KB kombinasi yang memiliki kandungan hormon dan progesteron dapat mengurangi risiko kanker ovarium mencapai 21 persen.

Hal ini berdasar pada sebuah riset terbaru yang dilakukan melalui kroscek data kesehatan terhadap 1,9 juta perempuan yang memiliki rentang usia mulai dari 19 hingga 49 tahun. Pil KB juga dapat mengembalikan kesuburan secara cepat, ini tentunya jika para perempuan berhenti mengkonsumsinya karena ingin hamil. Kandungan hormonal yang dimiliki Pil KB yang beredar di pasaran saat ini juga berada pada tingkat rendah, sehingga tidak akan mengganggu kesehatan perempuan.

Jutaan perempuan di Indonesia pun telah memilih Pil KB Andalan untuk merencanakan keluarga dan menjadi top of mind pada kategori produk Pil KB di Indonesia. Artikel ini merupakan bagian dari KG Media. Ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.