Pegadaian Bisa Hemat Rp 400 Miliar melalui Holding BUMN Ultra Mikro

Direktur Utama PT Pegadaian (Persero) Kuswiyoto menuturkan pentingnya pembentukan holding BUMN ultra mikro untuk menghemat anggaran perusahaan dalam rencana ekspansi bisnis. "Pegadaian berencana mengembangkan 2.000 outlet. Kalau dengan BRI kami bisa hemat per outlet Rp 200 juta, kalau 2.000 outlet berarti (hemat) Rp 400 miliar per tahun," kata Kuswiyoto dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Senin (8/2/2021). "Belum nanti kami punya penaksir penaksir yang ditempatkan di kantor BRI, maka pelayanan kami terhadap masyarakat di remote area khususnya akan tambah banyak,” ujar lanjutnya.

Dia menyebut, saat ini mayoritas kantor atau unit kerja Pegadaian hanya terdapat di kota kota besar dan kecamatan yang sudah lama berkembang. Kondisi ini membuat Pegadaian kesulitan menjangkau nasabah di daerah pelosok. Melalui integrasi UMi dan UMKM, jangkauan kerja Pegadaian dipastikan akan meluas.

Kuswiyoto menuturkan upaya ini juga membantu pemerintah memberantas keberadaan rentenir di daerah. Penetrasi ini bisa dilakukan secara hemat, karena Pegadaian hanya perlu menempatkan satu orang pekerjanya di kantor kantor BRI di pelosok. “Dengan begitu jangkauan kami kepada masyarakat di bawah akan jauh lebih bagus, yang sebelumnya mereka pinjam ke rentenir kami upayakan mereka bisa beralih ke Pegadaian. Jadi sudah ada 75 outlet BRI sekarang piloting, kami tempatkan tenaga kami di sana,” paparnya.

Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (Persero) Arief Mulyadi menyebut integrasi BUMN untuk UMi dan UMKM dapat meningkatkan nilai tambah bagi nasabah ketiga perusahaan yang akan terlibat. Dia menyebut ada banyak nilai tambah dan potensi yang terbuka dengan masuknya PNM dalam ekosistem pengembangan UMi dan UMKM bersama Pegadaian dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Arief memastikan integrasi usaha ini tidak akan berdampak pada PHK dan penutupan kantor PNM di daerah. Dia juga menyebut integrasi ini bisa menurunkan biaya pembiayaan yang disalurkan PNM kepada tiap pelaku usaha UMi.

“Sebetulnya bukan biaya bunga yang tinggi di kami, tapi biaya servis. Kami setiap minggu bertemu (nasabah), mereka kami manjakan tak perlu ke cabang untuk bayar angsuran, tidak kena biaya transaksi, sehingga bunga kami muncul angka segitu (sekitar 25 persen per tahun). "Untuk itu, sejalan peningkatan plafon mereka, kami sudah bisa menurunkan 6 persen jadi 19 persen (bunga) untuk debitur di atas Rp5 juta. Harapannya setelah bersama dalam ekosistem UMi ini harus ada penurunan signifikan,” ujar Arief.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.