FPI Seperti Orang Tua Kita kisah Anaknya Terhindar dari Miras Warga Petamburan III

Warga Jalan Petamburan III Jakarta Pusat menyayangkan penerbitan SKB Pemerintah yang menyatakan Front Pembela Islam (FPI) sebagai organisasi masyarakat (ormas) terlarang di Indonesia. Buntut dari penerbitan SKB tersebut yakni penertiban berbagai simbol dan atribut milik FPI. Kegiatan FPI sebagai ormas resmi dihentikan per hari ini, Rabu 30 Desember 2020.

Seorang warga Jalan Petamburan III berinisial H menceritakan, keberadaan FPI bagi warga Petamburan III selama ini layaknya orang tua pada anaknya. FPI memberikan bimbingan dan pendidikan kepada para remaja dan anak anak muda di Pertamburan III agar terhindar dari hal hal negatif. "Mirasnya tidak ada, yang nongkrong nongkrong minum tidak ada, karena FPI merasa bertanggung jawab, ini keluarga," sambung H.

Warga Jalan Petamburan III, kata dia, merasa dirugikan atas pembubaran FPI oleh Pemerintah. Mereka cemas bila FPI tidak ada, anak anaknya kelak akan terjerumus dalam hal hal negatif. "Kita merasa rugi kalau anak anak jadi pemabuk. Kita sayang betul, kita membutuhkan FPI. Kita sebatas orang tua ini terbatas, ruang lingkup kita itu melihat anak anak kita tingkah lakunya tidak seperti yang di luaran," ujar H.

FPI, lanjutnya, selama ini berhasil mengajak anak anak muda Petamburan III untuk mengikuti pengajian yang digelar tiap malam Kamis. Rutinitas pengajian itu, kata dia, digelar FPI untuk mengalihkan supaya anak muda Petamburan III tidak terjerumus ke hal hal negatif seperti nongkrong nongkrong sambil minum minuman keras atau mabuk. "Setiap minggu, rutinitas anak anak di perkampungan sini seperti itu," kata dia.

FPI selama ini juga mendidik anak anak daripada para orang tua di Petamburan III. FPI juga berhasil mendekatkan para anak muda Petamburan III kepada hal hal dan kegiatan yang positif. "Adanya FPI ini anak anak kita jadi dididik, dapat membimbing dia, dapat mengasuh dia, dapat meluruskan," kata H.

"FPI selama ini selalu membimbing anak anak muda, menghindarkan dari sifat sifat negatif, mendekatkan ke hal hal positif. Melalui pengajian, kegiatan kegiatan rutin yang lainnya," pungkas H.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.